Home > Climate Change > PANDUAN MENGHITUNG EMISI CO2 UNTUK INDUSTRI MIGAS DI INDONESIA (part 2)

PANDUAN MENGHITUNG EMISI CO2 UNTUK INDUSTRI MIGAS DI INDONESIA (part 2)

Buat teman-teman yang berminat dengan kelanjutan tulisan mengenai panduan menghitung emisi CO2 untuk industri Migas di Indonesia, berikut kita akan kupas bagaimana simulasi perhitungannya dengan menggunakan data-data yang saya modifikasi dari proyek-proyek “Greenhouse Gas (GHG) Inventory” yang pernah saya kerjakan di industri Migas di Indonesia di dua tahun terakhir ini.

Kita ambil dua contoh ekstrim perhitungan dengan konsep Tier 1 dan Tier 4. Masih ingatkan mana lebih tinggi tingkat akurasinya? Betul, makin tinggi tingkat Tier maka akan semakin tinggi tingkat akurasinya. Jadi Tier 4 adalah Tier paling tinggi. Asumsi lainnya adalah dari sekian banyak sumber emisi kita akan ambil sumber emisi dari proses pembakaran saja (misal dari turbin gas). Jenis gas rumah kaca yang akan dihitung juga hanya CO2 (untuk CH4 dan N2O tidak akan masuk dalam simulasi ini, karena perhitungannya akan mirip dengan CO2, hanya factor emisinya saja berbeda).

Jadi Contoh 1 adalah perhitungan Tier 1 dimana data konsumsi bahan bakarnya didapat dari perkiraan (bukan dari meter bahan bakar) dan factor emisi diambil dari factor emisi yang sudah di tetapkan di berbagai literature yang di terima secara internasional (bukan dari perhitungan komposisi bahan bakarnya).

Sedangkan Contoh 2 adalah perhitungan Tier 4 dimana data konsumsi bahan bakarnya didapat dari meter bahan bakar dan factor emisi diambil dari perhitungan komposisi bahan bakarnya.

Kita mulai saja simulasinya untuk masing-masing Contoh 1 dan Contoh 2 dibawah ini (catatan: untuk penggunakan titik dan koma mengacu ke standard international, dimana titik adalah tanda untuk decimal sedangkan koma untuk menunjukan ribuan. Ketentuan ini dijadikan rujukan di PermenLH no.12 tahun 2012):

Contoh 1:

Konsumsi gas untuk pengoperasian Turbin Gas di tahun 2012 adalah 400 MMscf per tahun. Data ini peroleh bukan dari meter untuk gas yang di supply ke unit turbin gas tapi di dapat dari estimasi berdasarkan jam operasi turbin gas. Faktor emisi CO2 diambil dari Tabel VII-6 (lampiran I, PermenLH no.12 tahun 2012) untuk natural gas 0.0643 Ton/106Btu (HHV).

Langkah pertama kita harus cari nilai kalor (energy per satuan volume) dari konsumsi gas tadi. Nilai kalor untuk natural gas pada kondisi HHV adalah 1,235 Btu/scf (lihat Tabel VII-4). Setelah itu kita bisa kita kalikan dengan volume konsumsi gas dan factor emisinya. Hasil akhirnya adalah 31,764 ton CO2. Untuk lebih detailnya bisa lihat perhitungan di bawah ini:

kalkulasi grk di migas

Contoh 2:

Konsumsi gas untuk pengoperasian Turbin Gas di tahun 2012 adalah 400 MMscf per tahun. Data ini peroleh dari meter untuk gas yang di supply ke unit turbin gas. Faktor emisi CO2 diambil dari perhitungan data hasil analisa komposisi gas, yaitu (misalnya) 56 ton CO2 per MMscf.

Untuk contoh 2 ini unit satuan untuk factor emisinya sudah dalam satuan ton CO2 per MMscf sehingga bisa dikalikan saja sehingga akan langsung di dapat hasil akhir jumlah emisi CO2nya, yaitu 400 MMscf x 56 ton / MMscf = 22,400 ton CO2.

Tantangan di contoh 2 ini adalah perhitungan yang cukup rumit untuk mendapatkan factor emisi CO2nya, yaitu menggunakan persamaan stoikimetri. Contoh detailnya bisa lihat di contoh perhitungan Conpendium 2009, yaitu Exhibit 3.3 dan 4.4.

Jika kita bandingkan hasil dari contoh 1 (Tier 1) dan contoh 2 (Tier 4) yaitu 31,764 ton CO2 dan 22,400 CO2 maka terlihat selisihnya cukup besar kan, sekitar 9,364 ton CO2. Kembali ke pertanyaan di awal tadi, mana yang lebih akurat? Tentu saja hasil yang menggunakan konsep Tier 4 yaitu 22,400 ton CO2.

Ketika kita dihadapkan pada pilihan bahwa hasil perhitungan kita ini akan berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam penurunan GRK atau kita ingin terlibat dalam perdagangan karbon atau bahkan jika dikaitkan dengan pemenuhan peraturan maka kita harus berusaha untuk melakukan perhitungan dengan Tier yang lebih tinggi dari sekedar tier 1.

Biasanya diawal-awal kita melakukan perhitungan emisi CO2 ini diawali dengan Tier 1 karena keterbatasan data dan kemampuan dalam perhitungannya. Tidak apa-apa seperti itu daripada tidak melakukan perhitungan sama sekali kan?

Categories: Climate Change
  1. September 10, 2013 at 4:57 pm

    hehe bener juga gan,, daripada tidak ada penghitungan sama sekali??

  2. May 23, 2014 at 4:54 pm

    masih bingung pak kalo hitungan hitungan gini pak,

    • May 25, 2014 at 10:24 pm

      Memang tidak mudah perhitungan utk emisi gas rumah kaca ini. Contoh perhitungan yg lebih sederhana bisa lihat di artikel yg cara mudah hitung emisi karbon di blog ini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: