Home > Energy > STRATEGI MENGHADAPI KEWAJIBAN MANAJEMEN ENERGI BAGI PERUSAHAAN DI INDONESIA

STRATEGI MENGHADAPI KEWAJIBAN MANAJEMEN ENERGI BAGI PERUSAHAAN DI INDONESIA

Sudah tahukah kalau mulai tahun 2012 ini perusahaan yang ada di Indonesia WAJIB melakukan Manajemen Energi dan melaporkannya hasilnya kepada pihak pemerintah terkait pada bulan Januari 2013 untuk periode pelaksanaan dari Mei – Desember 2012?

Tapi jangan khawatir, sekarang ini tidak semua perusahaan mendapatkan status WAJIB tersebut, hanya Pengguna Sumber Energi (PSE) dan Pengguna Energi (PE) baik itu perusahaan swasta, BUMN ataupun lembaga pemerintah yang menggunakan Sumber Energi dan/atau Energi lebih besar atau sama dengan 6.000 (enam ribu) setara ton minyak (STM) pertahun yang WAJIB melakukan Manajemen Energi.

Bagaimana dengan PSE dan PE dengan penggunaan Sumber Energi dan/atau Energi kurang dari 6.000 STM pertahun ? Pemerintah tetap meminta mereka untuk melakukan Manajemen Energi walaupun tidak wajib. Jadi tidak ada denda atau disinsentif bagi PSE dan PE yang dibawah 6.000 STM ini.

Kemungkinan denda atau disinsentif bagi PSE dan PE yang WAJIB adalah bisa peringatan tertulis, pengumuman di media massa, denda (5% dari biaya energi selama satu tahun periode pelaporan) dan pengurangan pasokan energi (5% dari kapasitas kontrak selama satu bulan). Cukup menyeramkan ya?

Sebetulnya kita tidak usah panik, yang penting kita mempunyai strategi yang tepat untuk menghadapi kewajiban manajemen energi tersebut. Kita awali dengan kita mengidentifikasi apakah kita termasuk yang WAJIB atau yang tidak.

Pertama kita inventaris sumber-sumber fasilitas yang menggunakan energi dan kita kelompokan ke dalam misalnya energi listrik (kWh), BBM (liter), batubara (ton), gas (MSCF) dan lain-lain. Setelah diperoleh jumlah energi dari masing-masing kelompoknya, kita konversikan ke dalam ” Setara Ton Minyak (STM)” atau di kenal juga sebagai ”Tonne of Oil Equivalent (TOE)”, dimana 1 STM atau TOE sama dengan 11.630 kWh = 41,87 GJ (penggunaan koma untuk desimal dan titik untuk ribuan, standar penulisan Indonesia). Untuk liter dan MSCF bisa dikonversi terlebih dahulu ke Joule, baru di konversi ke STM / TOE.

Kemungkinan besar industri pupuk, semen, pulp dan paper, peleburan besi dan baja termasuk ke dalam kategori yang WAJIB karena merupakan industri-industri yang menggunakan energi yang besar. Bagi industri lainnya silahkan menghitung terlebih dahulu.

Langkah berikutnya bisa merujuk ke peraturan mentri ESDM no. 14 tahun 2012 (bisa di download di link: http://www.esdm.go.id/regulasi/permen/cat_view/64-regulasi/70-peraturan-menteri/276-peraturan-menteri-esdm/359-tahun-2012.html).

Misalnya hal-hal yang harus dilakukan baik bagi yang WAJIB ataupun yang tidak, yaitu: Menunjuk Manajer Energi, Menyusun program konservasi energi, melakukan audit energi (sekali dalam 3 tahun), menindaklanjuti hasil audit energi dan melaporkan setiap tahun kepada Mentri, Gubernur atau Bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Uraian dari masing-masing item tersebut tertuang di dalam peraturan ini cukup lengkap, bahkan format untuk pelaporan tahunannya terlampir juga. Untuk itu kita akan lebih membahas kepada strategi terhadap manajemen energinya dibandingkan dengan membahas item-item yang harus dilakukan sesuai dengan peraturan tadi.

Menurut saya setelah ditunjukan Manajer Energi termasuk Komite Energi (yang beranggotakan perwakilan dari bagian atau departemen lainnya), sebaiknya dilakukan Audit Energi terlebih dahulu sebagai dasar untuk melihat apakah kita sudah termasuk PSE dan PE yang sudah efisien penggunaan energinya dan juga mengidentifikasi peluang-peluang program konservasi energi yang bisa dilakukan.

Setelah Audit energi, program konservasi energi bisa lebih mudah disusun, baik yang sifatnya program jangka pendek yang tidak perlu investasi atau jangka menengah dan panjang yang memerlukan investasi. Menurut pengalaman biasanya penghematan energy dari program tanpa biaya atau biayanya sangat rendah bisa mencapai 5 – 10 %.

Strategi lainnya adalah pada proses penghitungan dan pelaporan penggunaan energi ini akan lebih mudah dan akurat jika tersedia alat pengukur (meter) untuk masing-masing jenis energi yang dipakai. Jangan lupa saat kita melakukan konversi perhitungan dari berbagai unit satuan yang berbeda-beda, perbedaan standar penulisan koma dan titik dari standar internasional berbeda dengan standar indonesia.

Terakhir strategi yang sangat disarankan adalah dengan mengadopsi standar ISO 50001 mengenai Sistem Manajemen Energi dimana kita akan dipandu untuk melakukan manajemen energi secara lebih terstruktur dan sistematis. Apa dan bagaimana ISO 50001 akan dibahas di artikel berbeda di blog ini.

Sebagai penutup, pemerintah menjajikan akan ada insentif bagi PSE dan PE yang telah melakukan manajemen energi berupa skala prioritas dalam pasokan energi dan program kemitraan dalam audit energi. Mudah-mudahan informasi awal ini bisa lebih memudahkan para pelaku bisnis ataupun pihak lainnya dalam melakukan manajemen energi yang sebetulnya secara internal perusahaan sangat bermanfaat karena akan menghemat biaya operasi dan meningkatkan daya saing. Kita buktikan bahwa Indonesia pun bisa bersaing dalam melakukan konservasi energi ini.

Categories: Energy Tags:
  1. Ismail
    August 27, 2012 at 8:13 am

    Thanks Ran..

  2. October 14, 2013 at 6:08 am

    Salam kenal pak randy, saya masih tidak pede menghitung fugitive emission, karena data yang saya punya hanya jumlah peralatan saja, namun tidak dibagi menjadi jenis servicenya apakah itu gas, crude light, product, dsb. Shg saya agak bingung menentukan faktor emisi yang mau ga mau harus saya adopt dari OGP. Masalahnya adalah jika saya memiliki faktor emisi dari light crude (dengan asumsi saya lebih moderate) maka hasil fugitive emission besar sekali dan cenderung tidak masuk akal, jika saya memilih heavy crude, berarti saya tidak mempertimbangkan product, namun saya mendapatkan hasil fugitive emission lebih kecil / masuk akal. mohon pencerahannya pak

    • October 19, 2013 at 4:17 pm

      mba Ika, sebetulnya untuk menghitung fugitive emission ini gampang2 susah, tapi yg penting ketersediaan datanya seperti, nanti tinggal kita cari method perhitungannya sesuai data yg ada itu. Jika mengacu ke compendium 2009 chapter 6.0 Utk methods perhitungan fugitive dari equipment leaks itu bisa dgn 1). facility-level average emission factor approach, 2) Equipment-level approach dan 3) Component-level approach. Tinggal di pilih data yg kita punya spt apa dan asumsi2 apa saja yg cocok. Kadang saya pakai method yg no.1 ketika data tidak lengkap, sehingga tinggal cari jumlah produksi dan dikalikan dg emisi faktor terkait. Contoh perhitungannya ada di Exhibit 6.1 halaman 6-13. Semoga membantu ya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: