Home > CSR > Cara Mudah Memulai Penerapan CSR

Cara Mudah Memulai Penerapan CSR

Tren perusahaan-perusahaan dalam melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) semakin meningkat. Mayoritas kegiatan-kegiatan CSR tersebut berbentuk “charity” yaitu memberikan sesuatu kepada suatu komunitas masyarakat bisa berupa sandang atau pangan. Sebagian kecil perusahaan sudah menambahkan dalam CSRnya berupa program perberdayaan masyarakat (“empowerment”). Pertanyaannya adalah apakah kegiatan CSR tersebut sudah tepat sasaran dan efektif?

 

Sebelum kita menggunakan berbagai metodologi atau standar-standar dalam penerapan CSR (misal ISO 26000) yang tentunya kita perlu waktu untuk belajar dulu atau mungkin perlu bantuan konsultan CSR, sebetulnya ada kiat yang sangat mudah untuk menetapkan program CSR dan mengukur efektifitas pelaksanaannya. Kiat tersebut adalah sesuatu yang ada di depan mata kita dan kita biasa mendengarnya, yaitu AMDAL.

 

Nah, jadi kiat ini masih terbatas untuk perusahaan-perusahaan yang mempunyai dokumen AMDAL yang terdiri dari Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Jika dilihat lebih seksama, didalam RKL itu terutama dalam matrik pengelolaannya, terdapat berbagai kegiatan yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam konteks sosial, ekonomi dan kesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut harus dilakukan oleh perusahaan untuk meminimalkan adanya potensi dampak negatif perusahaan yang berasal dari kegiatan perusahaaan tersebut.

 

Jadi RKL ini menjadi input yang sangat penting dalam menetapkan program CSR kita. Diluar yang dicakup oleh RKL, jika perusahaan ingin menambah item lainnya itu lebih bagus lagi (misal input yang berasal dari adanya komplain dari masyarakat dll.).

 

Sementara itu untuk mengukur apakah CSR sudah tepat sasaran dan efektif, kita bisa merujuk kepada RPL. Jika kita lihat matrik RPL, berbagai metoda untuk memantau apakah kegiatan perbaikan dari perusahaan dalam bidang sosial, ekonomi dan kesehatan masyarakat sudah efektif atau belum. Misal perusahaan harus melakukan survey persepsi masyarakat, pemantauan kesehatan masyarakat dll.

 

Sayangnya, cukup banyak perusahaan, dimana departemen yang bertanggung jawab dalam menetapkan dan melaksanakan CSR jarang menjadikan RKL/RPL sebagai rujukan yang cukup penting. Bahkan mereka tidak pernah tahu apa isi RKL/RPL tersebut. Siapapun yang bertanggung jawab dalam menyimpan dokumen  RKL/RPL, distribusikan dokumen ini ke bagian-bagian terkait agar bisa menjadi rujukan dalam pelaksanaan CSR.

Selamat ber-CSR ria…..

Categories: CSR
  1. January 17, 2011 at 3:23 pm

    salam kenal….
    terima kasih atas infonya mas.
    saatnya membaca RKL dan RPL.😀

    • January 18, 2011 at 4:30 am

      Salam kenal juga dan selamat datang di blog saya. Jika nanti membaca RKL/RPL perlu dicek juga apakah RKL/RPL sudah sesuai dengan dampak yang ditimbulkannya dan akurat karena tidak sedikit RKL/RPL yang isinya kadang ada yang tidak relevan.

  2. rahadian
    November 13, 2011 at 8:23 am

    salam juga dari saya…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: