Home > EHS Management System > Pemantauan dan Pengukuran LK3 yang efektif

Pemantauan dan Pengukuran LK3 yang efektif

Dalam konteks penerapan sistem manajemen lingkungan (ISO 14001) atau K3 (OHSAS 18001), perusahaan diwajibkan melakukan pemantauan dan pengukuran Lingkungan atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Substansi dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui apakah upaya kontrol kita terhadap potensi dampak negatif ke lingkungan atau bahaya ke pekerja di area kerja sudah efektif atau belum.

Namun sayangnya substansi tersebut pada prakteknya belum bisa terpenuhi karena terkadang peraturan yang di acu bukan peraturan yang sesuai atau kalaupun sudah sesuai tapi parameter yang diukur bukan parameter yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada.

Sebagai ilustrasi, misal telah di ukur paparan debu di area kerja dimana batu bara yang sudah di”crushing” disimpan sementara sebelum ditransfer ke kapal laut pengangkut. Peraturan yang di acu sudah benar, yaitu SE Menaker no. 1 tahun 1997, tetapi baku mutu yang dipakai adalah debu/partikulat yang umum yaitu 10 mg/m3 padahal di peraturan tersebut baku mutu untuk debu batu bara sudah ada yaitu 2 mg/m3.

Jadi bisa dibayangkan jika terukur aktualnya debu tersebut adalah 8 mg/m3, maka akan di anggap masih di bawah baku mutu (debu 10 mg/m3) padahal seharusnya sudah melewati baku mutu debu batu bara yaitu 2 mg/m3.

Kejadian tersebut akhirnya tidak membuat perusahaan sadar untuk melakukan tindakan perbaikan (corrective action). Akhir cerita, potensi bahaya yang melebihi baku mutu tersebut akan memperburuk tingkat kesehatan pekerja di area tersebut yang tidak mengetahui adanya kondisi melebihi batas normal.

Pada kasus lain bisa terjadi peraturan yang di acu adalah peraturan yang sudah kadaluarsa atau peraturan yang masih berlaku tetapi ada peraturan sejenis yang lebih ketat. Misal baku mutu limbah cair dari kegiatan batu bara di tingkat nasional, KepmenLH no. 113/2003, parameter TSS adalah 400 mg/l, padahal peraturan tingkat I, yaitu KepGub Kalimantan Selatan no. 4/2007, parameter TSS adalah 200 mg/l (jauh lebih ketat).

Persepsi yang tidak pas juga sering menyebabkan adanya parameter yang TIDAK PERLU diukur sedangkan yang PERLU diukur malah tidak diukur. Misalnya di area workshop untuk pengelasan di ukur berbagai parameter NH3, H2S, SO2 padahal las yang dipakai adalah las listrik. Malah paparan asap yang berasal dari logam yang terpanaskan tidak ada satupun yang diukur. Sayang sekali bukan, selain ada biaya yang terbuang juga hasil pengukurannya tidak bisa memberikan umpan balik yang optimal.

Hal-hal di atas sering terjadi di berbagai perusahaan terutama disebabkan karena beberapa kondisi misal:
– hasil risk assessment untuk LK3 tidak dijadikan input untuk kegiatan pemantauan dan pengukuran.
– kondisi tersebut bisa terjadi karena potensi bahaya yang di catat pada saat risk assessment tidak spesifik (misal hanya menyebutkan paparan gas bahan kimia, tanpa disebutkan bahan kimia apa).
– pemahaman peraturan yang masih kurang, peraturan yang tidak spesifik untuk jenis industri tertentu, harusnya tidak semua parameter yang ada harus di ukur, tetapi disesuai kan dengan kondisi paparan bahaya yang ada seperti yang tercantum di hasil risk assessment atau di dokumen AMDAL (RKL/RPL atau UKL/UPL).
– terkadang perusahaan berasumsi bahwa apa yang direkomendasi dari pihak lab eksternal adalah sesuatu yang sudah final dan sesuai dengan kondisi bahaya yang ada.
– yang lebih parah adalah ada perusahaan yang menganggap kalau sudah meminta pihak ketiga untuk mengukur sudah selesai kewajiban perusahaan. Hasil pengukuran akan di simpan dilemari atau langsung dilampirkan dalam laporan rutin ke pihak pemerintah terkait (yang sangat jarang juga memberikan umpan balik apakah pemantauan dan pengukuran yang sudah dilakukan sudah cukup atau tidak).

Nah, dari sekian kemungkinan penyebab yang ada, mudah-mudahan bisa membantu kegiatan pemantauan dan pengukuran yang dilakukan bisa lebih efektif, tepat sasaran dan biaya yang seperlunya. Ada komentar atau ide lain?

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: